Sekilas Papua
Dewan Gereja Papua dan Koalisi Sipil Desak Pemerintah Hentikan Militerisme dan Evaluasi PSN di Tanah Papua
Jumat, 20 Februari 2026 Jayapura 4 Pengunjung
Dewan Gereja Papua bersama Koalisi Transformasi Masyarakat Sipil (KO-MASI) di Tanah Papua (foto : ist)
JAYAPURA. IUSTITIA PAPUA — Dewan Gereja Papua bersama Koalisi
Transformasi Masyarakat Sipil (KO-MASI) di Tanah Papua menyampaikan pernyataan
sikap terkait situasi keamanan, proyek pembangunan, serta kondisi kemanusiaan
di wilayah Papua, Jumat (20/2/2026).
Dalam pernyataan tersebut, koalisi menilai situasi di Tanah
Papua saat ini ditandai dengan meningkatnya militerisme, perampasan sumber daya
alam, serta krisis kemanusiaan di sejumlah daerah, termasuk Merauke, Yahukimo,
Biak, Sorong, Wamena, Fakfak, Manokwari, Timika, Intan Jaya, dan Nduga.
Koalisi mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk
menghentikan pendekatan militer di ruang sipil yang dinilai bertentangan dengan
konstitusi, Undang-Undang Hak Asasi Manusia, serta Undang-Undang Otonomi Khusus
Papua.
Selain itu, mereka meminta Panglima TNI menarik personel
militer yang ditempatkan dalam fungsi sipil seperti tenaga pengajar dan tenaga
medis di wilayah konflik, sebagaimana kebijakan yang sebelumnya pernah
disampaikan pimpinan TNI.
Koalisi juga menyerukan agar semua pihak yang terlibat
konflik bersenjata di Papua, termasuk TNI dan Tentara Pembebasan Nasional Papua
Barat (TPNPB), menghormati prinsip Hukum Humaniter Internasional guna
melindungi masyarakat sipil.
Soroti Akses Jurnalis dan Pemantauan HAM
Dalam pernyataan tersebut, pemerintah pusat juga diminta
membuka akses bagi jurnalis dan media asing untuk melakukan peliputan di Papua
secara terbuka.
Selain itu, koalisi mendesak pemerintah memberikan akses
kepada Komisi Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan
pemantauan langsung terhadap dugaan pelanggaran HAM di Tanah Papua.
Mereka juga meminta pemerintah segera membuka ruang dialog
dengan rakyat Papua sebagai langkah penyelesaian konflik secara damai dan
berkelanjutan.
Tolak Proyek Strategis Nasional
Koalisi turut menyoroti pelaksanaan Proyek Strategis
Nasional (PSN) di sejumlah wilayah Papua yang dinilai berpotensi merusak
lingkungan serta mengancam ruang hidup masyarakat adat.
Karena itu, mereka mendesak pemerintah menghentikan
proyek-proyek yang dianggap merampas hak masyarakat adat serta meminta kepala
daerah, Majelis Rakyat Papua (MRP), dan DPR Papua maupun DPR kabupaten/kota
menyatakan sikap terhadap PSN dan operasi militer di Papua.
Isu penolakan terhadap PSN dan militerisasi sebelumnya juga
menjadi perhatian sejumlah lembaga gereja nasional yang menyuarakan
kekhawatiran atas dampak ekologis dan sosial pembangunan di Papua, termasuk
risiko terhadap hak masyarakat adat dan demokrasi lokal.
Ditandatangani Puluhan Organisasi
Pernyataan sikap tersebut ditandatangani oleh 44 organisasi
masyarakat sipil, lembaga gereja, organisasi bantuan hukum, komunitas HAM,
serta kelompok advokasi di Tanah Papua, di antaranya Jaringan Damai Papua,
Dewan Adat Papua, WALHI Papua, ELSHAM Papua, LBH Papua, hingga sejumlah
organisasi kemanusiaan dan komunitas medis.
Koalisi menegaskan bahwa langkah dialog dan penghormatan
terhadap hak asasi manusia menjadi kunci utama dalam menyelesaikan konflik
berkepanjangan di Tanah Papua. (rilis)
Penulis : Editor Iustitia