Opini
PDIP Papua: Perbaiki Pilkada Langsung, Bukan Cabut Hak Rakyat
Minggu, 18 Januari 2026 Jayapura 269 Pengunjung
Komentar Ketua PDI Perjuangan Papua
Wacana pengalihan pemilihan kepala daerah dari pemilihan langsung oleh rakyat ke mekanisme pemilihan oleh DPRD kembali mengemuka. Bagi PDI Perjuangan Papua, wacana ini bukan sekadar perdebatan teknis tata kelola pemerintahan, melainkan persoalan prinsip demokrasi yang menyangkut hak dasar rakyat. Karena itu, sikap kami tegas: pemilihan kepala daerah harus tetap dilakukan secara langsung oleh rakyat.
Demokrasi lahir dari kedaulatan rakyat, bukan dari
kesepakatan segelintir elite di ruang tertutup. Hak rakyat untuk memilih
pemimpinnya sendiri tidak boleh dipangkas dengan alasan apa pun. Ini bukan soal
siapa yang paling nyaman mengatur atau siapa yang diuntungkan oleh sistem
tertentu, tetapi soal menjaga fondasi demokrasi agar tidak terus mengalami
kemunduran.
Sikap ini sejalan dengan keputusan Rakernas PDI
Perjuangan yang secara tegas menegaskan bahwa pilkada langsung harus
dipertahankan. Artinya, bagi PDI Perjuangan, ini bukan isu musiman atau reaksi
sesaat, melainkan prinsip politik yang konsisten. Jika hari ini hak rakyat
memilih kepala daerah dicabut, maka tidak ada jaminan bahwa hak-hak demokratis
lainnya tidak akan dipangkas di kemudian hari. Ini adalah jalan mundur yang
berbahaya, dan Papua tidak boleh didorong ke arah itu.
Kami tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan
dalam pelaksanaan pilkada langsung. Biaya politik yang tinggi, praktik politik
uang, ketegangan sosial, hingga konflik horizontal adalah realitas yang harus
diakui. Namun pertanyaannya sederhana: apakah solusi dari berbagai kelemahan
itu adalah mencabut hak rakyat? Jawabannya jelas tidak. Jika ada kebocoran di
atap rumah, yang diperbaiki adalah atapnya, bukan membongkar seluruh rumah.
Khusus di Papua, pilkada tidak sekadar soal menang
atau kalah. Pilkada menyangkut harga diri masyarakat, relasi sosial antar
kampung, antar keluarga, dan antar kelompok. Karena itu, Papua membutuhkan
pemimpin yang memiliki legitimasi kuat, yang berdiri di atas mandat rakyat,
bukan mandat hasil lobi-lobi politik. Papua tidak bisa dipimpin dengan
legitimasi yang setengah-setengah.
Mengalihkan pemilihan kepala daerah ke DPRD bukanlah
solusi. Masalahnya tidak hilang, hanya berpindah tempat. Dari lapangan ke
gedung DPRD, dari rakyat ke elite. Bahkan, potensi masalah bisa menjadi lebih
besar karena prosesnya cenderung tertutup dan jauh dari pengawasan publik. Jika
yang menentukan hanya segelintir orang, maka ruang transaksi politik justru
semakin terbuka.
Kami menolak Papua dipimpin oleh kepala daerah yang
lahir dari “kesepakatan di belakang meja”. Rakyat Papua tidak boleh direduksi
perannya hanya menjadi penonton yang lima tahun sekali diminta diam dan
menerima keputusan elite. Ketika rakyat tidak diberi ruang untuk memilih, rasa
memiliki terhadap pemimpin akan hilang, dan kepercayaan publik terhadap negara
bisa runtuh. Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya bagi stabilitas sosial
dan politik di Papua.
Alasan bahwa pilkada langsung mahal juga tidak boleh
dijadikan pembenaran untuk memangkas hak rakyat. Jika memang mahal, maka negara
wajib hadir memperbaiki sistemnya. Perketat regulasi, perkuat pengawasan,
tindak tegas politik uang, benahi data pemilih, perkuat KPU dan Bawaslu, serta
jaga netralitas aparat. Jangan sistem yang bermasalah, tetapi rakyat yang
justru dihukum.
Tidak ada jaminan bahwa pemilihan oleh DPRD lebih
bersih. Bahkan sebaliknya, proses yang tidak transparan dan minim partisipasi
publik justru berpotensi melahirkan keputusan yang jauh dari kepentingan rakyat
di kampung-kampung. Demokrasi tidak akan menjadi sehat jika obat yang dipilih
adalah memotong hak rakyat.
PDI Perjuangan Papua berdiri pada prinsip yang jelas:
kepala daerah harus dipilih langsung oleh rakyat. Ini soal kedaulatan,
legitimasi, dan masa depan demokrasi di Papua. Jika pilkada langsung memiliki
kelemahan, maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitasnya, bukan
menghapusnya.
Pada akhirnya, rakyat Papua tidak membutuhkan pemimpin
yang lahir dari lobi elite. Rakyat membutuhkan pemimpin yang lahir dari suara
rakyat dan bekerja untuk rakyat. Hak rakyat memilih pemimpinnya sendiri adalah
harga mati. (Benhur Tomi Mano/red)
Penulis : Editor Iustitia