logo loading

Pilkada

Ini Isi Pidato BTM-CK Pasca Penetapan PSU Pilkada Papua, Dari Ucapan Terima Kasih Hingga Mencari Kebenaran di MK

Jumat, 22 Agustus 2025 Jayapura 36 Pengunjung

Ini Isi Pidato BTM-CK Pasca Penetapan PSU Pilkada Papua, Dari Ucapan Terima Kasih Hingga Mencari Kebenaran di MK

Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano-Constant Karma (BTM-CK), saat memberikan pidatonya di kediaman BTM di Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (22/8/2025). Foto: Istimewa

JAYAPURA, IUSTITIAPAPUA.com- Pasca putusan rekapitulasi Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2024 yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua pada, Rabu (20/8/2025).

Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano-Constant karma (BTM-CK) menyampaikan pidato resmi, sekaligus mengucapkan terima kasih, di kediaman BTM di Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Distrik Abepura, kota Jayapura Provinsi Papua, Jumat (22/8/2025)

BTM menyampaikan, ucapan terima kasih kepada para relawan yang setia mengetuk pintu rumah rakyat, mengibarkan bendera, menjaga TPS, meski hujan dan panas.


Baca juga:

PSU Pasca Putusan MK: Sarat Kecurangan, Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Tak hanya itu, kepada para pendukung dan simpatisan yang tidak pernah surut walau badai menerpa. Para tokoh masyarakat adat yang menjaga identitas dan martabat orang Papua di tengah gelombang demokrasi nasional. Para tokoh agama, yakni para pendeta, gembala, imam, ustadz, dan seluruh rakyat Papua.

"Saya, Benhur Tomi Mano, dan saudara saya Constan Karma, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua 2025–2030, menegaskan komitmen kuat kami berdua dalam mendukung berbagai Program Strategis Nasional (PSN) dan program-program berbasis kerakyatan, demi mewujudkan masyarakat Papua yang sejahtera, berdaya saing, dan berkeadilan,” ungkap saat memberikan pidato resmi, Jumat sore.

Dengan semangat Papua Maju, Mandiri, dan Berbudaya, kami siap menghadirkan visi, kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, mendorong kolaborasi antara pusat dan daerah serta memastikan bahwa tak satu pun anak bangsa di Papua tertinggal dalam arus kemajuan.


"Hari ini saya berdiri bukan untuk memperdebatkan lagi keputusan KPU. Biarlah itu lewat bersama angin sejarah. Saya tidak menoleh ke belakang. Kita tidak lagi menghitung luka, karena yang lebih penting adalah menjaga harapan. Kita idak lagi mengulang cerita yang melukai hati, karena kini kita melangkah dengan satu tujuan, menjemput kebenaran di Mahkamah Konstitusi (MK),” jelas BTM.

Kata BTM, semua orang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana suara rakyat diperlakukan semena-mena. Angka-angka dihapus dengan Tipeks, seakan suara rakyat bisa dihapus begitu saja dengan sebotol cairan putih.

Kata BTM, suara rakyat bukan angka di atas kertas. Suara rakyat adalah denyut hati, apas, dan harapan. Cairan putih itu mungkin bisa menutup tinta, tapi tidak pernah bisa menghapus nurani, sama seperti sungai yang deras, meski alirannya coba ditutup, air akan mencari jalan.  begitu pula kebenaran. Ia mungkin tertahan sebentar, tapi pada akhirnya ia akan sampai juga ke muara keadilan. Karena itu,  ia ingin, menyampaikan pesan kepada penyelenggara pemilu, KPU Papua, beranilah menyatakan kebenaran, terlalu banyak bukti kecurangan dalam

proses PSU.


Tuhan tidak akan membiarkan apa yang kamu lakukan hari ini. Ingat, apa ang kamu lakukan akan ditanggung akibatnya oleh anak cucumu di atas tanah ini. Apa yang ditabur, itulah yang akan dituai, cepat atau lambat,” katanya.

Mantan Wali Kota Jayapura ini mengatakan, masih banyak polisi yang baik. Masih banyak aparat yang berdiri di jalanan, mnjaga TPS, mengatur lalu lintas, dan mengawal rakyat dengan hati nurani. Kepada mereka, dirinya memberikan hormat.

 

Karena mereka membuktikan, seragam itu bukan sekadar ini, tetapi lambang pengabdian. Begitu pula kepada TNI. Kita patut berterima , karena TNI telah menjaga netralitasnya,” ucap BTM.

BTM menyebutkan bahwa TNI tetap berdiri sebagai pengawal bangsa, bukan pengawal kepentingan sesaat. Netralitas TNI adalah napas segar bagi demokrasi di tanah Papua, rakyat melihat serta menghargainya.


Baca juga:
Matra Laut di Biak Perkuat Kesiapsiagaan dan Dukung Pariwisata Bahari Papua

“Saya ingin menegaskan, perjuangan kita bukan untuk melawan aparat. perjuangan kita adalah untuk bersama-sama menjaga marwah demokrasi. Tanpa  aparat yang baik, mustahil demokrasi ini bisa terjaga,” ujarnya. (Redaksi)


Penulis : Editor Iustitia