Metro
Sinode Keuskupan Jayapura, Meneguhkan Gereja Misioner, Mandiri, Partisipatif dan Solider
Senin, 02 Februari 2026 Jayapura 55 Pengunjung
JAYAPURA, IUSTITIA PAPUA - Gereja Diajak Berjalan Bersama sebagai Umat Allah yang Misioner dan Solider
Jayapura, 2 Februari 2026 – Sidang Sinode Keuskupan Jayapura resmi dibuka pada Senin (2/2/2026) di Diklat Kotaraja, Jayapura. Pembukaan sinode ini menjadi momen eklesial penting yang menandai dimulainya proses berjalan bersama (syn-hodos) seluruh umat Allah Keuskupan Jayapura dalam semangat doa, persekutuan, dan perutusan.
Pembukaan sinode diawali dengan Perayaan Ekaristi di Gereja Kristus Juruselamat, Kotaraja, yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You. Perayaan Ekaristi ini bertepatan dengan Pesta Tuhan Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, yang ditandai dengan perarakan lilin sebagai simbol Kristus Sang Terang Dunia.
Dalam perayaan tersebut, Uskup Jayapura berkonselebrasi bersama Mgr. Ariel Edgardo Torrado Mosconi, Uskup Keuskupan Nueve de Julio (Argentina) sekaligus Jenderal Scholas Occurrentes; Fr. Marcin Schmidt, perwakilan Pontifical Scholas Occurrentes; serta Pst. Habel Jadera, Pr. Kehadiran mereka mewakili Yayasan John Paul II Scholas Occurrentes yang berbasis di Vatikan. Turut hadir para pastor dekan, para imam se-Keuskupan Jayapura, serta umat beriman dari berbagai paroki.
Liturgi pembukaan sinode berlangsung khidmat dan kaya akan nuansa inkulturasi, ditandai dengan tarian liturgis dan paduan suara dari Paroki Kotaraja yang menegaskan kekayaan iman Gereja lokal Papua.
Dalam homilinya, Mgr. Yanuarius Matopai You menegaskan makna Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah sebagai panggilan untuk mempersembahkan diri secara total kepada Allah, sebagaimana diteladani oleh Maria dan Yosep. Simbol lilin, menurut Uskup, mengingatkan umat bahwa Yesus adalah Terang Dunia yang memurnikan dan menyelamatkan manusia.
Uskup juga mengaitkan makna pesta tersebut dengan pelaksanaan sinode, seraya menegaskan bahwa sinode merupakan ruang iman untuk mengalami pembebasan dan pemurnian Allah. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjalani proses sinode dengan kesungguhan hati, keterlibatan penuh, dan keterbukaan pada bimbingan Roh Kudus.
Secara khusus, Uskup menegaskan bahwa imamat, selibat, dan kepemimpinan gerejawi bukanlah milik pribadi, melainkan anugerah yang harus dipersembahkan bagi Allah dan umat. Ia juga membagikan pengalaman panggilannya sebagai uskup asli Papua pertama, yang dijalani dalam keyakinan akan penyertaan Tuhan dengan moto episkopal Ego vobiscum sum (Aku menyertai kamu).
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan resepsi pembukaan sinode di Aula Diklat Kotaraja sebagai ungkapan syukur dan persekutuan.
Sidang Sinode Keuskupan Jayapura dibuka secara resmi melalui mekanisme aklamasi tanpa keberatan dari para peserta. Sinode ini mengusung tema umum “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Misioner, Mandiri, Partisipatif, dan Solider”, yang akan menjadi arah refleksi dan discernment bersama Gereja Keuskupan Jayapura dalam menjawab tantangan pastoral dan sosial di Tanah Papua.
Melalui sinode ini, Gereja Keuskupan Jayapura meneguhkan komitmennya untuk semakin setia pada Injil, berakar pada konteks Papua, serta hadir sebagai terang Kristus di tengah kehidupan masyarakat. (Rls/lia)
Penulis : Editor Iustitia