Sekilas Papua
“Dari Aula BPSDM, Semangat Sinodal Menggema: Gereja Jayapura Siap Melangkah Bersama”
Rabu, 04 Februari 2026 Jayapura 116 Pengunjung
JAYAPURA, IUSTITIA PAPUA - Sidang Pleno II Sinode
Keuskupan Jayapura yang berlangsung di Aula BPSDM pada Selasa (3/2/2026)
menegaskan pentingnya semangat sinodalitas sebagai jalan bersama Gereja dalam
membangun persekutuan, partisipasi, dan perutusan. Persidangan hari kedua ini
diisi dengan arahan umum pimpinan sinode, pengantar panitia, serta diskusi
kelompok sebagai bagian dari proses discernment bersama.
Sidang dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan
Jayapura selaku pimpinan sinode, diawali doa pagi dan absensi peserta. Dalam
pesan gembalanya, Uskup menegaskan sinode bukan sekadar agenda administratif,
melainkan proses rohani dan eklesial yang menuntut keterbukaan hati, kejujuran,
serta tanggung jawab bersama dalam mendengarkan bimbingan Roh Kudus.
Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) dan Panitia
Pelaksana (Organizing Committee/OC) kemudian memberikan pengantar teknis
terkait tata tertib persidangan yang mengacu pada Buku Pedoman Sinode Keuskupan
Jayapura 2026. Penjelasan mencakup hak dan kewajiban peserta, kepemimpinan
rapat, serta ketentuan tambahan lainnya.
Ketua SC, Pst. Konstantinus Bahang, OFM, menegaskan tujuan
utama sinode adalah mencapai kesepakatan bersama melalui tahapan sosialisasi,
pendalaman, studi bersama, hingga pembobotan materi.
Memasuki sesi kedua, peserta diajak memulai diskusi
dengan doa kepada Bunda Maria, Bintang Evangelisasi Baru. Dalam pemaparannya,
Pst. Konstantinus Bahang, OFM, menjelaskan draf Arah Dasar Keuskupan, visi dan
misi pastoral, serta luaran yang diharapkan dari diskusi kelompok.
Ia menekankan, Buku Arah Dasar merupakan hasil kristalisasi aspirasi umat yang dihimpun berjenjang mulai dari Komunitas Basis Gerejani (KBG), paroki, hingga dekenat, sebelum dirumuskan oleh tim perumus.

Bentuk 16 Kelompok Kecil
Persidangan memutuskan pembahasan dilakukan dalam 16
kelompok kecil, dengan setiap tema digarap secara mendalam oleh dua kelompok
melalui mekanisme studi bersama. Tidak terdapat penundaan maupun penolakan
terhadap keputusan tersebut.
Selain agenda persidangan, dinamika rohani juga
menjadi bagian penting hari kedua sinode. Kegiatan diawali dengan doa pagi
pukul 06.00 WIT dan ditutup dengan Perayaan Ekaristi pukul 18.00 WIT.
Dalam homilinya, Pst. Goris, OFM, menekankan pesan
belas kasih tanpa batas, iman yang menyembuhkan, serta panggilan Gereja untuk
menjadi wajah kasih Allah bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan. Ia juga
menegaskan bahwa proses sinode merupakan perjumpaan yang memulihkan serta
mendorong komitmen misioner Gereja.
Dari sisi dinamika persidangan, peserta menunjukkan
partisipasi aktif dengan dialog yang terbuka dan tertib. Pandangan minoritas
tetap dihargai sebagai bagian dari proses discernment bersama. Penegasan Uskup
mengenai sikap mendengarkan menjadi benang merah yang mewarnai penerimaan tata
tertib dan struktur sinode.
Sebagai tindak lanjut, persidangan merekomendasikan
agar kelompok-kelompok pembahasan memperdalam materi dasar sinode sesuai mandat
yang diberikan. Pendalaman tema-tema strategis diharapkan menjadi fondasi bagi
pembaruan pastoral Keuskupan Jayapura ke depan.
Hari kedua sinode pun dinilai menjadi fondasi rohani
dan struktural bagi seluruh rangkaian persidangan. Melalui proses ini, Gereja
Keuskupan Jayapura meneguhkan komitmen untuk berjalan bersama dalam semangat
sinodalitas, setia pada discernment, serta terbuka pada bimbingan Roh Kudus
dalam kehidupan menggereja sehari-hari. (rls/lia)
Penulis : Editor Iustitia